oleh

Ketimpangan Berujung Pada Penolakan

Oleh : Kasman hasbur S.pd.MM.

Menolak Tunduk
Menumbuhkan Kesadaran Melawan Ketidak adilan.Salam hormatpara sahabat Buruh yang berlawan dan berjuang menolak tunduk.

Permasalahan perburuhan dalam sistem kapitalisme tidak akan pernah ada habisnya. Sistem kapitalisme membuat terbaginya masyarakat menjadi dua kelas yang saling berkontradiksi.

Kelas kapitalis yang meguasai sarana produksi dan kelas buruh yang hanya memiliki tenaga untuk dijual kepada pemilik modal. Tujuan dari pemilik modal adalah untuk mengakumulasi kapitalnya, sedangkan tujuan kelas buruh adalah untuk mencapai kesejahteraan.

Maka tidak mengherankan apabila untuk mendapatkan keuntungan dan mengakumulasi kapitalnya buruh menjadi korban.

Buruh menghadapi kondisi kerja yang buruk serta mengalami ketidakadilan dalam kehidupan sehari-hari. Buruh di pabrik tempatnya bekerja tidak mendapatkan sebahagian Hak2nya.

Buruh Mengalami Ketidak Pastian Status,yang ada adalah Kerja dan kerja saja.Jangan Banyak Protes dan jika Protes SP menantimu,Setelah buruh menuntut diberikan upah yang terjadi malah ancaman PHK, SP, Serta dicarikan berbagai Masalah secara sepihak.

Mendengarkan keluhan,
Tumbuhnya perlawanan buruh bukan karena untuk menghancurkan kapitalisme atau menciptakan internasionalisme, akan tetapi karena hal-hal “sepele”, pelanggaran dan ketidakadilan yang mereka alami di pabrik dan ditempat-Tempat Devisinya beraktivitas, Mulai dari hal-hal kecil sampai pelanggaran yang tidak manusiawi,Ada juga Bahasa yang bermunculan,Dilarang Sakit.

Kesenjangan Gaji antara Yang Kerja keras dengan yang kerjanya hanya berdiri berfoto-Foto dijalan dan sebagainya, Ketidakadilan serta kondisi kerja yang jauh dari kata sejahtera seperti itu yang memunculkan bibit-bibit perlawanan dari buruh.

Problematika Perlawanan serta Pentingnya Berserikat di dasari Narasi munculnya nalar kritis dan perlawanan dari buruh harus dilihat secara komprehensif.

Banyak hambatan-hambatan yang dialami buruh yang ingin berorganisasi dan melakukan perlawanan. Budaya konsumerisme yang menjalar kesendi-sendi kehidupan buruh menjadi penghambat buruh untuk sekedar berorganisasi maupun melawan.

Tuntutan pemenuhan materi dari keluarga merupakan problem tersendiri. Bahkan dari dalam perusahaan sendiri terkadang berorganisasi serikat kadang Perusahaan beranggapan Serikat itu adalah momot yang bisa menghambat Kepentingan tertentu.

Akhirnya perusahaan memilah -milah serikat untuk dijadikan Mitra (Serikat yang bisa dikomandir yang bisa ditundukkan aja yang diAkui,Bahkan serikat terbentuk penuh dengan Pengurus yang pengurusnya tak Paham Organisasi Buruh alias terbentuk hanya kepentingan sesatnya oknum oknum Tertentu.

Apa sebenarnya yang Sebenarnya Diinginkan Kaum Buruh?
Pola hegemoni kapitalisme nampaknya masih sangat kuat mencengkram imaji dari mayoritas masyarakat Indonesia.

Pikiran-pikiran yang menyalahkan buruh sehingga melegitimasi upah murah serta penghisapan yang dilakukan kelas pemodal masih tumbuh subur. Masih banyak kalangan yang ‘nyiyir’ terhadap perjuangan buruh. Argumen utama yang kontra terhadap perjuangan buruh menuntut kenaikan upah adalah rendahnya produktivitas buruh.

Adanya pemikiran sempit bahwa perusahaan merugi,dan berhasilnya perusahaan membentuk pemikiran pemikiran karyawan tertentu untuk melawan kebenaran dengan menjanjikan manisan manisan duit dan sebagainya.

Lantas apa yang sebenarnya diinginkan kaum buruh?,Adanya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi serta perilaku yang tidak manusiawi dari pemilik modal terhadap buruh seharusnya pertanyaan tersebut sudah tidak relevan lagi untuk ditanyakan.

Apalagi dengan sistem ekeonomi yang membagi masyarakat menjadi dua kelas seperti sekarang ini sebenarnya berapapun upah yang diterima buruh masih dieksploitasi. Artinya kerja buruh masih dimanfaatkan untuk memperkaya segelintir orang.

Jadi selain menuntut kesejahteraan, menuntut hak-hak normatif, buruh sebenarnya berhak mengontrol alat produksi untuk kepentingan bersama. Dengan produksi yang dilakukan bersama maka akan tercipta tatanan masyarakat yang lebih egaliter.

Apa yang harus di lakukan Kaum Buruh?,Watak pemerintah yang semakin mesra dengan pemilik modal harus “diganggu” dengan mengkonsolidasikan serta menguatkan perjuangan kaum buruh.

Perlu diingat bahwa kebijakan negara yang berpihak pada kaum buruh seperti pengurangan jam kerja dari 14 jam ke 8 jam, hak cuti hamil dan haid bagi perempuan, pelarangan pekerja anak dibawah umur, serta jaminan-jaminan sosial merupakan hasil dari perjuangan dari buruh.

Artinya tidak ada kesejahteraan buruh yang merupakan hasil dari kebaikan penguasa maupun pengusaha. Apakah buruh hanya diangkap sebagai mesin produksi? Apakah buruh tidak pantas sejahtera? Apakah buruh akan selamanya hidup untuk kekayaan orang lain? Atau buruh berjuang untuk sejahtera? Itu semua menjadi PR serikat serta kita bersama untuk membantu kaum buruh mencapai kesejahteraan.

Karena tanpa perjuangan yang kolektif tidak aka nada yang namanya kesejahteraan. #tidak akan pernah ada perubahan tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan.

Ditengah pusaran kebijakan Neoliberal seperti sekarang ini tidak ada pilihan lain selain Berserikat dan melakukan Perlawanan secara kolektif,Koferhensip berpegang teguh pada aturan perundang-undangan.

Penulis merupakan pengurus DPW Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (FKSPN) Sultra

News Feed