oleh

Impian dan Keluarga Kecilku Kini Jadi Sirna

Oleh:Muh.Sahrul

Tak terasa sudah 8 tahun pernikahan kita sejak hari itu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana untuk menyatukan kembali seperti yang telah kita lewati bersama, sayang. Untuk mengerti keadaanku ataupun untuk menerima nasibmu dimasa mendatang.

Masa SMA, merajut kata menjadi cerita yang tak akan dilupa, membawa banyak cerita, luka, dan kenangan yang berharga. Tak semua orang memiliki masa SMA yang indah. Namun setiap orang akan menemukan pengalaman yang berharga. Maukah kita bertukar tulang? Kamu jadi tulang rusukku dan aku akan jadi tulang punggungmu. Akhirnya aku menemukan pintu awal menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Keseharianku disibukan tuntutan profesi sebagai kuli tinta, sejak pertama kau kupinang menjadi pendamping hidupku, profesi itu lebih dulu ku geluti. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, pertengkaran rumah tangga tak dipungkiri, tidak bisa membayangkan hidup tidak saling melengkapi di dalamnya. Janji, Aku dan Kamu ingin menjadi tua bersama. Mari habiskan hidup kita kelak hingga akhir hayat.

Bertemu denganmu adalah keberuntungan, menjadi kekasih pendamping hidup, serta ibu dari anakku. Mencintaimu adalah keyakinan dan komitmen satu sama lain. Bisikan perpisahan kini menghantui, namun semua tetap kokoh, sebab cinta dan kasih sayang tidak membutuhkan tuntutan dan harapan. Cukup ketulusan.

Berbagai cobaan kini datang menghampiriku, harus kuterima, musibah dan tanggungjawab itu cukup melelahkan, tenaga dan pikiran, bahkan merogok kocek dalam-dalam hingga sebagian harta hilang, tak seutuhnya keluarga kecilku mengetahuinya, apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa hari hanyalah hari yang buruk, harus mengalami kesedihan untuk mengetahui kebahagiaan, bahwa tidak setiap hari akan menjadi hari yang baik.

Seiring berjalan waktu, terpaksa meninggalkan profesi 14 tahun menemaniku. Hidup dengan kata-kata, meski terkadang penuh tantangan. Bergelut diprofesi baru tentu perlu pengalaman mumpuni, kini menghampiriku dengan kekakuan dalam bertindak.

Saat aku sampai di tanah leluhur itu, terpikir aku akan datang dengan senyuman dan kebahagiaan bersama menemani keluarga kecilku, namun tangisan dan perpisahan menyelimutiku malam itu.

Harap ku, air mata di pipimu adalah air mata terakhir kau teteskan untuk yang kesekian kali bersamaku menemani diruang indekos tempat hunian kita berteduh, berjanjilah tidak akan ada air mata lagi dalam hidupmu. Apa jadinya dirimu kalau kau ku bawa, serta rasa lapar dan terhina adalah kehidupan kita sehari-hari.

Aku tak membenarkan perbuatanku meninggalkanmu tanpa kabar. Bahkan aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Tidak ada yang tau betapa menderitanya diriku hidup tanpa kalian.

Biarlah tuhan menghukumku asal kau tidak menjadi sepertiku. Biarlah dosa ini menjadi milikku, demi aku melihatmu bahagia bersama ayah sambung untuk bidadari kecilku.

News Feed